Obrolan warung kopi

Obrolan warung kopi

Obrolan warung kopi

Obrolan warung kopi adalah obrolan tanpa tujuan namun kaya akan inspirasi. Tengoklah sebentar para calon elite ketika pilkada, mereka akan menyasar warung kopi sekedar mencari tau apa yang sedang dan terjadi di akar rumput. Biasanya berangkat dari sana mapping dan strategi guna meraih simpati masa yang dikomandoi para konsultan bergerak. So iye dah bahasanya, ngarti mah kagak...hahaha 

Salam santun terlebih dahulu untuk kita semua, tulisan ini tidak bermaksud memojokan namun untuk kita renungkan. Dalam khasanah sastrasukasuka semua tergantung dalam berbagai sudut pandang. Sah sah saja sebagai bentuk kritik sosial.

Selamat pagi siang dan sore. Tulisan ini dirancang pagi,datang ilham siang dipost agak sore. Mungkin akan ada editing di malam hari. Sudahkah anda ngopi hari ini?

Hari ini saya saya akan sedikit bermanuver, yang biasanya saya bermain di 2 story cerita, namun hari ini akan bermain di single story. Bagaimana manuvernya? ini akan jadi acuan saya kedepan.


***

Jumat ini diawali dengan cuaca yang mendung di pagi hari, namun ketika beranjak mulai jam 11 siang cuaca seketika menjadi terik.

Saya melangkahkan kaki bergerak ke Mesjid untuk shalat Jumat berjamaah sekitar pukul 11.40, memakai celana bahan serta baju batik. Saya risih apabila memakai kain sarung, terlebih saya menuju masjid dengan menggunakan motor, takut keselimpet.

Suasana mesjid di wilayahku masih tetap sama sejak April lalu, hampir semua memakai masker dan ada jarak di tiap shaf shalat. Mesjid ini mesjid jami yang berada di komplek Sekolah Dasar dan SMP swasta, berada di pinggiran : Kota antah berantah. 

Jumlah jamaah kira-kira hampir 100an orang, mulai dari anak-anak, dewasa hingga tua. Apabila di hari biasa, jumlah jamaah akan 2 kali lipat karena bertambah dengan murid SMP sekolah ini.

Jam 11.50 setelah Adzan, khotib naik ke mimbar. Memberikan ceramah jumat yang bertema kan tentang " kewajiban Shalat" hingga sekitar 25 menit. Setelah selesai shalat Jumat, jamaah secara tertib bubar jalan ke tempat masing-masing. 

Begitu keluar masjid, suasana masih sangat terik, mataku silau dibuatnya. Jarak dari masjid ke rumah ialah sekitar 500 meter. Karena tidak ada agenda lain, saya tergoda untuk mampir di kedai kopi kampung tak jauh dari masjid. Biasanya diramaikan oleh pekerja lapangan dari mana-mana : mulai dari Sales yang biasa antar pesanan, pegawai leasing bank, dan bahkan para pedagang keliling yang sengaja beristirahat. Posisi kedai itu tepat di persimpangan yang strategis dan rimbun pepehonan.

Saya pesan kopi hitam pekat untuk mengusir rasa kantuk yang luar biasa.

Saya coba gambarkan ya, kedai ini berkursikan batang bambu panjang yang disusun, membentuk huruf U. di luar masih ada bangku dari batang bambu apabila didalam sudah penuh : namun tidak sesak ya. Jangan coba bayangkan berjubal-jubal, kami pun di kampung tau tentang Social Distancing.

Begitu saya masuk, ada rombongan yang berjumlah 4 orang yang keluar, jadi posisi saya di dalam tidak terlalu padat, hanya ada 3 orang yang saya terka ialah rekan seprofesi. Mereka asyik mengobrol sambil menikmati kopi dan camilan nya. Salah seorang tadi terlihat memesan mie instan komplit dengan sawi dan telur.

Setelah 5 menit barulah saya tau kalo 2 orang dari mereka adalah Sales makanan ringan yang biasa mengantarkan pesanan ke warung-warung, yang satu ialah wirausaha yang mencoba peruntungan menjadi Sales mandiri. Selisih dari agen besar, dia kantongi sendiri.

Karena korek api yang akan mereka gunakan untuk membakar rokok mati, salah satu dari mereka meminjam pada saya yang tak jauh dari mereka : Cara classic dalam membuka obrolan. Benar saja tak lama dari peminjaman korek itu, obrolan pun tercipta. Jiwa kepow saya bergejolak mendengar curhat curhatan mereka.

***

Mereka terlihat mempersoalkan perihal penutupan jalan yang diberlakukan oleh pengurus kompleks sebelah terkait pandemi yang menjadi rute mereka mengirimkan makanan. Yang mereka analogikan lucu : virus kan kecil, lah ini portal kan besar, apa hubungannya?

DKI saja yang jelas jelas zona merah saja tidak ada yang bisa memportal jalan keluar masuk ke kotanya, lha ini kan kompleks kecil...jalan umum, kalo semisal perumahan cluster sih kami bisa faham.

Apa karena rata rata pengurusnya kebanyakan mereka pekerja kantoran sektor formal, jadi ya kebijakan nya juga sepengetahuan mereka, mereka kan ga ada yang dasarnya pekerja non formal yang masuk sana masuk sini, apabila ada jalan yang di portal, berapa energi yang dikeluarkan untuk menempuh jalur memutar tersebut, cost untuk BBM dipastikan akan membengkak, apabila dikalikan 30 hari.

Pernah juga kami melihat " sepenuturan mereka " ada suatu kompleks yang memberlakukan larangan masuk buat abang Ojol berPlat Nomor daerah, padahal itu hanya status nomor polisi nya, namun orangnya tetap orang dekat kawasan kompleks itu. Konyol, namun itu bagian dari fakta yang ada di lapangan.


Ada Benang Merah yang bisa kita garis bawahi disini :

  • Obrolan warung kopi walau terdengar konyol namun kaya akan aspirasi, dari akar akar rumput yang kadang tak terjangkau elit.
  • Obrolan warung kopi walau terdengar tidak elegan namun itulah sejatinya kita, kewajiban elite untuk mengEdukasi serta memodifikasi apa yang terjadi di akar rumput dan cara menananganinya.
  • terkadang yang dibutuhkan dibawah adalah sesuatu yang sederhana, very simple.
Karena elite adalah juga bagian dari rakyat sekalian, raihlah rahyatmu seperti engkau meraihnya di detik detik Pilkada. Ea Ea Ea

Selamat ngopi dari kota antah berantah nan jauh di mata.


You may like these posts