Kurang ngomel, menang banyak diem

Kurang ngomel, menang banyak diem

Kurang ngomel, menang banyak diem


Selamat pagi siang dan sore. Tulisan ini dirancang pagi,datang ilham siang dipost agak sore. Mungkin akan ada editing di malam hari. Sudahkah anda ngopi hari ini?

Salam santun terlebih dahulu untuk kita semua, tulisan ini tidak bermaksud memojokan namun untuk kita renungkan. Dalam khasanah sastrasukasuka semua tergantung dalam berbagai sudut pandang. Sah sah saja sebagai bentuk kritik sosial.


Hari ini saya akan bahas masih seputaran kritik tentang kemajuan perkembangan tekhnologi. Sayang lho, tekhnologi berkembang sedangkan orangnya nggak. Seiring makin majunya tekhnologi, merambat pula hal tersebut ke perkembangan kemajuan Dunia Digital.


Artikel ini bermula dari "Obrolan Cilok" Hahhhh, sumpeh lho. Bagaimana Cilok bisa merasuk ke tatanan dunia digital ? nggak sejauh itu bro, namun bermuara dari Cilok. Gak gak cuy


Hari ini adalah hari sabtu, disebuah pojokan warung didepan sebelah waralaba ayam goreng Mang Donal itu, persis didepannya mangkal di gerobak abang penjual Cilok. Bukan cilok receh, namun cilok kuah yang gerobaknya saja kelimis, taksiran saya per biji bukan Gope !


Saya berdiri sampih utara gerobak itu, sedang menikmati teh kemasan di warung kopi. Terlihat seorang pembeli bernada kesal complaint ke bapak paruh baya penjual cilok. Usut punya usut, ada cacat produksi di cilok yang dia jual yaitu ada nya gerenjel gerenjel mirip karet namun si bapak bisa pastikan bahwa itu dari daging olahan, bentuknya memang seperti karet gelang.

Penjual tersebut ga banyak bicara, segera mengganti sebanyak 5 buah padahal yang cacat ialah cuma 1. Saya hanya sedang mengestimasikan, sang penjual yang paling meraup untung Rp.500 rupiah perbiji Cilok yang dia jual, namun harus rela kehilangan Rp.2500 apabila dia ganti 5 Cilok kuah tadi. Namun hitung - hitunganan tadi seperti mengalir begitu saja di kepalanya, yang dia pikirkan reputasi nya ke depan. Tanpa menghitung dahulu laba rugi. Si pembeli yang complaint tadi berlalu bagaikan angin.

Sampai disini faham?



Story kedua


Saya  mendapat promo di online travel agent, isi nya  harga yang ditawarkan ialah  potongan hampir 60% dari biasanya. Anggaplah di penginapan bintang 3 yang biasa dibanderol Rp 700.000 kali ini saya hanya cukup membayar Rp.300.000 dan tentunya dengan syarat ketentuan berlaku.

Karena dunia hospitality juga bagian dari hidup saya, saya iseng iseng bertanya kepada team di hotel tersebut. Saya perkenalkan dahulu siapa saya, dari mana saya berasal,lalu bertanya supaya mereka ga merasa sedang dinterogasi. 

" Sibuk mas? back to back ? " Iya pak, EA dan ED nya berbarengan numpuk, mana concierge cuma 1.

Suasana lobby hotel bintang 3 itu berubah layaknya pasar, suara anak2 berlarian kesana kemari, orang orang bersandar gurau : Bapak, Ibu, Kakek, Nenek bercampur menjadi satu. Ada pula yang merengek rengek minta di prioritaskan ke petugas reception. 



Ups...Sebelum ngegas lagi, diatas itu ada beberapa Istilah perhotelan, sambil nyender saya jelaskan ya :


Back to back : Kondisi dimana tamu check out hampir berbarengan dengan tamu yang akan datang. Posisi paling krusial back to back ialah hari sabtu dimana biasanya weekday hotel diramaikan tamu rapat yang check out di hari sabtu, dan pada saat yang sama akan datang tamu Free individual traveller masuk.

ED                : Expected departure. Bahasa awamnya tamu yang akan check out hari ini.
EA                : Expected arrival, ialah tamu yang akan datang hari ini


 

Note : akan mencolok apabila tamu yang check out di hari sabtu hampir semua mepet di jam 12 siang, dan tamu yang akan check in yang seharusnya jam 14.00 siang sudah tiba sebelum jam 14.00 tadi. Berarti ada double occupancy di loby. hehe 



Kembali ke topik di Hotel tadi.

Saya perhatikan seorang reception sudah mulai memberikan kamar satu persatu terlebih kepada mereka yang membawa anak dan sudah mengisi form registrasi. Waktu menunjukan pukul 12.00 siang, yang seharusnya periode check in dimulai pada pukul 14.00 perlahan sudah diberikan, tanpa memungut biaya tambahan. Perlahan para tamu bergegas ke kamar masing masing, memecah penumpukan massa di lobby, terlebih ini masih dalam suasana pandemi.


Ada benang merah yang bisa kita simpulkan dari 2 story diatas.

1. Seorang penjual Cilok yang saya kisahkan pertama tak segan2 memikul kerugian untuk mengganti produknya yang dinilai cacat sepihak oleh pembeli yang setelah itu pergi berlalu.

2. Tamu di hotel yang merengek rengek dengan alasan A B C D diberikan prioritas oleh sang reception, walau dia tahu ketentuan check in itu ada di jam berapa.


Ada feedback yang terlepas, berjalan hanya satu pihak.  Tagline yang saya sebut : 

" Kurang ngomel, menang banyak diem  "


Setidaknya :


Berikan apresiasi kepada pedagang Cilok tadi, bahwa apa yang sudah dia lakukan ialah bentuk tanggung jawab moral.

Berikan apresiasi kepada petugas receptionist tadi, setidaknya dia sudah menabrak sistem dengan memprioritaskan tamu, setiadaknya berikan comment dan suggestion kepada orang lain, agar apa yang dia lakukan itu berbuah manis di esok hari, untuk tempat kerja dia, untuk keberlangsungan pekerjaan dia.

     

Agar apa yang digambarkan oleh Bapak Ibu guru kita di sekolah dahulu bahwa manusia adalah makhluk sosial yang berarti saling membutuhkan berjalan tidak terlepas. Membentuk konsep simbiosis mutualisme yang indah.

Selamat ngopi dari kota Antah berantah nan jauh dimata.


You may like these posts