Plin – Plan Empat

Plin – Plan Empat


Plin plan sebuah hubungan

Plin – Plan




Kala itu mentari pulang dengan tergesa… 
Serentak, awan hitam menyelimuti 
Angin berhembus semakin kencang 
Namun sepertinya, hujan tak akan datang. 



Sangatlah jelas, ketika mulutmu mendekat… 
Membisikan kata yang terdengar semakin samar… 
Karena suara angin berhembus 
Serta suara kilat yang menyambar lebih jelas terdengar. 



Ku akui engkaulah sosok pemberani 
Jujur pada hati nurani diri sendiri 
Sosok jiwa yang berkomitmen 
Berani berbuat sesuatu yang kau anggap benar. 



Namun,entah kenapa, entah mengapa… 
Sesuatu telah meracunimu… 
Berupa cairan yang seakan menjalar 
Meracuni terus jiwa ‘karbitan’ yang berkembang terlalu cepat! 



Ku saksikan dengan jelas sisi lainmu yang palsu 
Yang dengan sombong berujar “ Maaf, aku telah mencampakkanmu, ” 
Aku tak marah, dan tak akan marah… 
Oleh katamu yang hanya akan mampir di telinga kiriku lalu pergi lewat telinga kanan ku ini. 



Aku hanya mencoba memasuki sesuatu yang baru… 
Beramah – tamah, berbasa – basi tetap bersopan – santun. 
Kalaulah ada sesuatu yang mengganjal, ungkapkanlah di muka pintu 
Karena kita lebih menyukai sesuatu yang jujur. 



Berani jujur… 
Bahwa kita sama – sama memiliki kebutuhan biologis… 
Atau lebih jelas lagi 
Sama – sama kesepian yang memerlukan hangatnya sebuah pelukan.


written by : yopie_popoy

You may like these posts