Belajar membatasi ekspektasi

Belajar membatasi ekspektasi

Belajar memahami ekspektasi



Selamat pagi siang dan sore. Tulisan ini dirancang pagi,datang ilham siang dipost agak sore. Mungkin akan ada editing di malam hari. Sudahkah anda ngopi hari ini? 

Salam santun terlebih dahulu untuk kita semua, tulisan ini tidak bermaksud memojokan namun untuk kita renungkan. Dalam khasanah sastrasukasuka semua tergantung dalam berbagai sudut pandang. Sah sah saja sebagai bentuk kritik sosial. 

Malam hari ini saya akan bahas tentang kritik tentang kemajuan perkembangan tekhnologi. Sayang lho, tekhnologi berkembang sedangkan orangnya nggak. Seiring makin majunya tekhnologi, merambat pula hal tersebut ke perkembangan kemajuan Dunia Digital. Sekarang siapapun dapat dengan mudah memesan akomodasi, belanja, bahkan memesan tiket fisik melalui smartphone nya. 

Oiya, secara tidak langsung pandemi Covid-19 menambah ramai pembelian melalui online dengan harapan membatasi social distancing. 

Lantas apa hubungan nya dengan judul diatas? Kita bahas pelan pelan ya.

Pernahkah kita mendengar kata2 ini keluar dari seorang pembeli? Lho kok bentuknya kecil ya, lho kok cuma segini ya? lho kok dan lho kok.

Saya posisikan diri dahulu menjadi seorang seller. Seorang seller biasanya akan secara detail memberikan gambaran terhadap produk yang dijual, baik itu secara kuantitas maupun secara ukuran. Di dunia jasa biasanya embel embel murah ditambahi dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Misal gini..hotel yang biasanya dibanderol dengan harga 700.000 per malam seketika menjadi 300.000 itu harus dibaca dengan seksama, pasti ada sesuatu. Entah itu tanpa sarapan, entah itu hanya berlaku di weekday atau entah itu hanya berlaku untuk 1 orang penghuni. Yang jelas sesuatu yang dikurangi harganya itu pasti punya maskud dan tujuan. Apa pesan yang tersirat nya? baca dengan detail syarat dan ketentuan.

Di masa pandemi seperti sekarang ini, banyak hotel mengobral harga kamarnya dengan maksud untuk survive dan mencoba meraih demand yang selama pandemi berlangsung turun secara drastis. Secara garis besar yang saya maksudkan diatas ialah hotel budget bintang 3 ke bawah, kalo hotel chain besar mungkin akan berpikir dua kali mengobral harga sewa kamarnya dengan menurunkan berbagai standar kriteria.

Iseng iseng membuka platform pemesanan kamar yang familiar berwarna biru...Hampir semua hotel menurunkan harga sewa kamar nya terlebih di hari kerja. Ada yang banting harga hingga 200.000 belum apalagi ditambah dengan flash sale yang diberlakukan platform itu kamarin hingga 50%, kebayang kan berapa harga nya? bisa dikata dari yang biasanya sewa kamar mencapai 500.000rb-an, kemarin bisa mencapai harga 150.000rb-an dan itu sudah nett pajak, WOW.

Infonya program itu berhasil, tingkat hunian kota cukup terangkat dengan push senjata diskon tersebut. Namun selintingan ada saja informasi masuk antara lain katanya :


  • di aplikasi dikatakan kamar tanpa sarapan namun mereka kira sudah termasuk
  • di aplikasi tertera jam kedatangan ialah jam 14.00 ada yg maksa ingin masuk di jam 12.00
  • di aplikasi sudah jelas tertulis hanya untuk 2 orang dewasa namun kenyataannya melebihi.
  • ekpektasinya terlalu tinggi, bayangkan dengan cost yang senilai 150.000rb-an dan setelah dipotong travel agent commision bla bla bla hotel akan dapat berapa?




Benang merah yang bisa kita ambil kembali ialah : Rendahnya budaya baca, minimnya pengetahuan, serta ekspektasi yang berlebihan.  membatasi ekspektasi ialah penting, nominal 150.000rb untuk penginapan semalam di hotel budget jangan disamakan dengan nominal 1.500.000 di hotel premier bintang 5. Dari A sampai Z semuanya akan terasa.

Come on.. kritik yang saya tuangkan disini adalah bagian pembelajaran buat saya juga, agar jangan kita di cap sebagai warga +62 yang penuh dengan cerita minor itu. Saya pun sebagai warga +62 miris selalu dikaitkan dengan cerita seakan2 semua warga +62 ialah kaum barbar yang tak tau aturan. 

Semua sepakat dalam dunia apapun ada norma yang tak tertulis dan norma tertulisnya. Apabila anda adalah seorang wisatawan yang baru, tidak ada salahnya menanyakan segala informasi kepada penyedia akomodasi anda.

So...selamat ngopi dari antah berantah nan jauh di mato

You may like these posts