Politik Aji Mumpung

Politik Aji Mumpung

Selamat pagi siang dan sore. Tulisan ini dirancang pagi,datang ilham siang dipost agak sore. Mungkin akan ada editing di malam hari. Sudahkah anda ngopi hari ini? Salam santun terlebih dahulu untuk kita semua, tulisan ini tidak bermaksud memojokan namun untuk kita renungkan. Dalam khasanah sastrasukasuka semua tergantung dalam berbagai sudut pandang. Sah sah saja. 

Dari Judulnya yang bernama Politik Aji Mumpung. Namun bukan kita akan membahas Politik praktis, namun Aji Mumpung dari sudut pandang kritikan sosial dan Budaya. Yang ringan ringan saja. 

Agar tidak terlalu serius kita khiaskan lagi dengan Kota Antah berantah nun jauh disana. 

Pagi pagi buta saya berjalan menyusuri jalananan kampung di pinggiran kota antah berantah. Yang saya cari adalah penjual Bubur Ayam. Hari ini masih pagi, masih banyak penjual yang belum buka terlebih masih suasana lebaran yang mewajibkan sebagian para pedagang mudik ke kampung halamannya. 

Di sebuah ujung jalan yang cukup jauh dari rumah, akhirnya saya temukan jua si pedagang itu. Karena hanya satu dari kejauhan nampak dia sibuk melayani permintaan pasar yang melonjak. Hukum ekonomi cuy. 


sastrasukasuka


Di bawah pohon tak jauh dari gerobaknya saya amati dia melayani antrian para pembeli yang rata-rata orang sekitar. Saya perhatikan pula, sebenarnya saya agak tidak sreg dengan Bubur Ayam jenis ini yang terkenal dengan bumbu rempahnya yang medok. Saya lebih menyenangi aroma Bubur Ayam Khas Cianjur yang wangi beras pandan wangi serta buburnya yang encer. Eits itu perkara selera ya...xixixi... 

Tak lama berselang turun lelaki muda bersama seorang Ibu tua dari sedan mewah. Sebetulnya ini sudah masuk antrian saya, namun karena unsur kemanusian saya persilahkan Orang tua tersebut terlebih dahulu dilayani. Tak lama berselang si anak muda tersebut memohon izin pamit pada saya nampak bersopan santun. 

“ Terima kasih banyak mas, saya pamit duluan mau antar ibu check up di rumah sakit “ Ujarnya dengan senyum tulus sekali. Sambil menerima uang kembalian setelah membeli beberapa bungkus Bubur Ayam untuk dibawa pulang terlebih dahulu. 


Yang saya soroti bukan itu, namun budaya aji mumpungnya. 

Begini, setelah saya dilayani barulah saya tahu harga perporsi bubur ayam tersebut adalah Rp.7000 padahal saya tau si pemuda dengan orang tua yang barusan pamit membeli 5 porsi bubur dihargai senilai Rp.10.000. Ada diskriminasi harga dengan tampilan dan porsi yang sama. 

Kasus lain yang terjadi apabila kita bepergian ke tempat wisata. Salah satunya adalah bertemu dengan pedagang atau penjual jasa yang suka getok harga seenaknya. Harga barang yang harusnya Rp4.000 bisa jadi Rp14.000 karena ketahuan status turisnya. Terkadang yang bikin sebal bukan soal uangnya, tapi perasaan dibohongi atau ditipu. 

Nggak semua sih pedagang seperti itu, tapi beberapa pedagang memang punya kebiasaan menaikan harga semena-mena. Terutama kalau bertemu turis atau orang yang awam dengan wilayah tersebut. 


Ada benang merah yang bisa kita soroti adalah adanya pergeseran budaya kejujuran. Ini adalah timur bukan barat. Dimana aspek kejujuran adalah sesuatu yang dijunjung tinggi, diwariskan dari tiap generasi ke generasi dibawahnya. Apakah sudah Lupa? 

 


Selamat ngopi dan Salam santun dari Kota Antah berantah nan jauh dimata. 

You may like these posts